Memahami Kewanitaan yang Ke-Indonesia-an

How hard it is to make peace with your womanhood when you are an Indonesian?

Yang jelas, jawabannya adalah tidak simple. Jauuh dari kata “simple”. Sesungguhnya, nggak ada yang bisa dengan pasti menjelaskan arti kata kewanitaan, bahkan tidak juga KBBI. Menurut KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, kewanitaan berarti “yang berhubungan dengan wanita; sifat-sifat wanita; keputrian”. KBBI pun bingung, dan hanya merujuk kepada kata “sifat wanita” sebagai penjelasan dari kata kewanitaan. Padahal, kewanitaan sewajarnya memiliki cakupan yang lebih luas dari sekedar sifat wanita meski arti yang dipersembakan KBBI jelas nggak salah.

Kewanitaan sebagai kata turunan memiliki makna yang jauh lebih kompleks. Kewanitaan berbicara mengenai sifat wanita, cara berpikir wanita, fisik wanita dan apa saja yang dirasakan dan dialami wanita seutuhnya, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Anatomi wanita tentu tidak bisa dirangkum oleh KBBI, jadi kata sifat lah yang dipilih. Bisa dipahami, tapi saat diri kita adalah wanita yang dibesarkan oleh ibu pertiwi Indonesia, ke-pertiwi-an itu banyak merubah dan membuat kewanitaan yang merujuk pada seksualitas sebagai hal yang tabu saat seharusnya hak milik wanita ini dirangkul sebebasnya.

Saya bukan seseorang yang pro kepada seks sebelum pernikahan. Hal ini tidak terlepas dari agama yang saya praktekkan, namun saya harap hal ini tidak membuat ekspresi pikiran saya jadi kurang relevan. Saya dan mantan pacar yang sekarang sudah jadi suami juga by default tidak pernah -bahkan sekedar kepikiran- untuk coba-coba lebih dari batas teritori yang sewajar-wajarnya nurani kami putuskan. Kami berdua takut akan sesal yang tidak bisa diperbaiki, dan saya bersyukur akan hal itu.

Masalah datang ketika kemudian kami naik level jadi pasangan suami istri sah. Semuanya jadi hal yang baru buat kami, kecuali rasa peduli satu sama lain. Seks termasuk di antaranya. Seks yang saya lihat di film-film chick flick Hollywood atau hasil pencarian buah rasa penasaran di malam-malam menjelang haid ternyata jauh dari yang namanya kenyataan. Kenyataan seks suami istri itu messy, serba membingungkan dan yeah, gak seindah bayangan.

download
Image source: higherslefie.com

Setelah pengalaman pertama yang gagal total karena serba bingung dan capek sendiri menemukan “pintu masuk”, saya jadi kepikiran mengenai banyaknya free sex dan ketabuan di sekitarnya yang membungkus pekat. Pertanyaan yang timbul lebih kepada kenapa anak-anak muda rela melakukan hubungan seks di luar nikah dan mengulanginya berkali-kali kalau ternyata rasanya, well, B aja alias biasa aja? Saya paham sih gelora masa remaja, saya kan pernah remaja. But it’s really not worth the confusion and the effort if you’re not married. Saya tidak setuju pula jadinya dengan anggapan seks itu sesuatu yang tabu. Saya merasa bahwa seks layak dibicarakan secara terbuka dan bebas, karena minimnya pengetahuan seputar seks sama sekali nggak membantu kesehatan reproduksi laki-laki dan perempuan.

Saya lantas kepikiran lagi tentang penjahat kelamin. Random, I know. Saya merasa jijik dengan mereka yang tega memperkosa dengan penetrasi kelamin. Kalau yang dengan cinta saja susahnya minta ampun, apa kabar mereka yang dipaksa dan dilanda ketakutan dan rasa tidak berdaya? Saya ngeri dengan trauma macam apa yang dirasakan orang yang pernah diperkosa.

Saya begitu dibuai dengan janji-janji indah “saat pertama”. Saya begitu tidak sabar untuk merasakan yang namanya orgasme pertama kali dan merasa diinginkan dan didambakan secara fisik. None. Nada. Dan semua itu gak ada hubungannya sama performa dari saya dan suami. Gak ada lah itu yang namanya performa-performa, dan majalah-majalah dewasa memang terbukti menjual mimpi saja, menjual apa yang mau dibaca oleh pembacanya dan mengais untung dari mata uang rasa penasaran.

Tubuh setiap dari kita punya respon yang berbeda-beda, dan bentuk yang berbeda-beda. Saya begitu kecewa dengan malam pertama saya, saya bahkan terbangun di tengah malam mencari tahu apa kiranya sebab kami gagal. Masa iya karena capek, sih? Saya tidak percaya. Selama hari-hari pertama pernikahan, sulit rasanya untuk saya berdamai dengan kenyataan bahwa kami belum berhasil. Saya bahkan tega membiarkan perasaan mempermainkan pikiran saya dalam berpikir kalau kami yang amatir ini gak akan pernah berhasil.

Huft.

Ternyata di percobaan ketiga lah kami berhasil. Tapi bukan berarti kembang api lantas bermunculan dan semuanya happy ending.

Enter Phase 2: Communication

Bagaimana cara kita mengkomunikasikan sesuatu adalah hal yang mau tidak mau erat kaitannya dengan cara kita dibesarkan. Budaya ketimuran, budaya Indonesia yang kalau “mau jangan langsung bilang mau” jadi isu buat saya. Saya selalu mempersilakan orang lain melakukan apapun yang mereka inginkan asal mereka senang. saya ngikut aja soalnya saya cinta damai dan malas ngotot. Mental asal orang lain senang ini begitu mengakar sehingga urusan ranjang juga demikian. Masalahnya, di luar dugaan saya, suami pun bukan seperti yang digambarkan film-film picisan sebagai sosok pria yang menuntut kejantanannya dipuaskan, dan saya ada dalam limbo penasaran. Sikap dia yang woles, plus adanya keinginan saya untuk diinginkan dan dikemudikan dalam hal ini membuat kami berantem.

Saya mati-matian bilang kalau sudah sepantasnya dia menunjukkan pada saya bahwa dia yang mau, dan bukan sebaliknya. Jangan hanya tease around and leave me hanging, beberapa kali statement itu yang saya keluarkan. Dia tidak pernah berinisiatif, dan kewanitaan yang ke-Indonesian membuat saya duduk anteng menanti tanda-tanda alam, yang memang tidak pernah datang. Suami menuntut saya menunjukkan kalau saya mau, dan saya menuntut dia bertindak kalau memang ingin, just woo me already, y’know?

Dimepiece-LA-Womanhood-4-Miss-KL-Blog
Image source: streetwearclothes.com

 

Pada satu titik, saya sedikit merasa frustrasi (walau baru menikah sekitar 2 minggu) dan saya berpikir, ah, fvck society-standard on how we, Indonesian women must act. I kinda came to my senses. This is my bedroom, my body, my husband. And now we’re allowed. We’ve been following the good ol’ tradition religiously because we value our belief and if after we are tied sacredly I still play it coy BECAUSE THAT’S WHAT WOMEN SHOULD DO, then I’m too tired. Jadi, saya ambil alih. Dan, syukurnya, suami melihat usaha saya dan ikut “menemui saya di tengah-tengah”, jadi saya gak malu sendirian.

Kenapa Mesti Malu Jadi Wanita yang “Mau”

Menurut saya, sebab utama munculnya rasa malu itu sendiri adalah karena kita perempuan dilabeli sebagai makhluk yang gak sepantasnya bersikap agresif. Kalau cewek yang suka duluan, label “murahan”, label “gampangan”, dan semua label-label negatif lainnya bermunculan. Suami saya bahkan, masih sedikit terbawa kejantanan ala-ala zaman baheula, dan menggoda saya sebagai istri yang “horny”-an, padahal dia sendiri juga pengen didambakan. Lagi-lagi, another label. He didn’t mean bad, I know. But that significantly reduced my confidence, I can’t help it. 

Pertanyaan jadi timbul saat kita, perempuan dilabeli, “Jadi saya semestinya tidak seperti itu?” hanya karena kita benci dijuluki sesuatu. Untuk menghindarinya, jangan dilakukan lagi. Untuk menghindarinya, program ulang cara berpikir dan anggap itu sesuatu yang salah, yang tabu, yang gak pantas.

Susah ya, jadi perempuan? Kompleks dengan berbagai pemikiran masing-masing, tapi saat menyuarakan dan memberanikan diri. dihujani label sana-sini. Njuk piye, ndhes?

Kalimat klasik peredam suara perempuan adalah “Mbok ya jadi cewek jangan suka marah-marah dan ngomel melulu”. Rasanya pengen ngamuk dan ngejambak orang yang ngomong begitu.

Saya balik ya, “Mbok ya jadi laki-laki yang terhormat”. Kalau sebagai lawan jenis masih aja suka protes kita perempuan hobinya main kode dan pria bukan pembaca pikiran, jangan kaget dan malah bikin nama julukan kalau perempuan ngomong atau langsung bertindak duluan.

Tadi Ngomongin Apa Sih?

Sudah sejauh ini, dan sedikit keluar jalur dari bahasan yang seharusnya direfleksikan oleh judul, mari kembali lagi sejenak. Kewanitaan adalah entitas wanita, seutuhnya, tanpa ada batas definisi kamus besar maupun cara pandang masyarakat. Setiap perempuan berhak menentukan dan berotonomi atas tubuhnya sendiri, terlepas dari apakah dia wanita dengan mental yang ke-Indonesia-an tidak. Bagi saya, orang yang percaya akan Tuhan dan menjalankan ajaran agama saya, tubuh saya adalah tempat kediaman Tuhan saya, dan karena itulah saya jadi abdi yang menjaga sebaik-baiknya tubuh ini supaya tidak tercemar, tidak sakit, tidak melakukan hal yang mengkhianati nurani, termasuk kewanitaan saya; bagian-bagian yang membuat saya teridentifikasi sebagai perempuan.

Gak ada salahnya mengekspresikan sesuatu yang tadinya tabu seputar kewanitaan, apalagi ketika posisi kita adalah sebagai istri. Bukan dalam konteks pelayan atau pemuas kebutuhan suami (lagi-lagi pandangan miring soal istri), tapi dalam konteks kita pun berhak menjunjung diri kita sebagai perempuan. Di atas ranjang, perempuan dan suaminya setara. Jadi, mental Indonesia atau sudah berhasil keluar dari penjaranya, biarlah ini jadi refleksi kalau mau bilang aja mau, jangan malu-malu dan takut dianggap yang bukan-bukan.

9jo_ohmygodkaren.tumblr
Wisdom of Kevin G via profilepicturequotes.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s