Pernikahan dan 7 Stereotipe yang Mengikutinya di Indonesia

Pengantin ini mengabadikan sendiri momen pernikahannya. Sumber: boredpanda.com

Menikah memang menyatukan dua keluarga, dan seharusnya cukup sampai di situ saja.

Sebagai perempuan, wajar saja jika kita semua pernah membayangkan pernikahan bak negeri dongeng dengan gaun yang membangkitkan perasaan bagai ratu semalam. Itu juga alasan mengapa begitu banyak film dan liputan yang mengkhususkan topik pernikahan sebagai hal yang tidak akan habis dibahas dari berbagai sudut pandang. Tidak terbatas teritori, rasanya hampir seluruh budaya di dunia punya pengagungan tersendiri terhadap pernikahan.

Ralat: Pesta pernikahan.

Begitu banyak hal yang diributkan oleh pihak yang akan menikah (dan sayangnya bukan cuma dua orang yang sepakat saja), dan sedikit sekali hal tersebut benar-benar menitikberatkan pada institusi dan kehidupan setelah pesta semalam suntuk itu sendiri. Kalau memang pernyataan ini salah, coba buktikan sendiri dengan list pertanyaan (atau cibiran, komentar, dan nasehat) yang akan didengar dua orang Indonesia yang mau menikah berikut.

  1. “Kenapa gak mau pesta? Nanti dikira MBA, lho.”

MBA (married by accident) alias menikah karena hamil duluan adalah ketakutan terbesar para orang tua saat menikahkan anaknya. Kenapa? Jarang sekali rasa takut orang tua yang satu ini muncul karena pertimbangan akan apa yang dialami si anak kelak, seperti apakah anak sanggup menjalani rumah tangga kalau belum-belum sudah punya anak. Bisa dipastikan hal ini ada di urutan kesekian. Kebanyakan orang tua malu atas penilaian masyarakat akan cara mereka membesarkan sang anak. Tapi, bukan itu inti dari poin yang satu ini. Anak yang tidak mau pesta besar-besaran adalah bentuk nyata keberhasilan orang tua dalam membesarkan anak yang tidak peduli pada hal-hal yang dilihat mata saja. Jadi, kenapa harus takut akan apa anggapan orang?

2. “Jangan sampai saudara-saudara jadi ngomongin kita karena pestanya gak meriah.”

Sebenarnya, ini saudara apa saudagar? Dr. Seuss bilang “Be who you are and say what you feel, because those who mind don’t matter and those who matter don’t mind”. That’s right! Yang beneran peduli sama kita akan ikut bahagia, seperti apapun pestanya. Kita memang tidak akan bisa mengontrol kalau ada saudara-saudara jauh yang nyinyir. Yang bisa kita lakukan ya mendoakan ajalah biar mereka hidupnya tetap damai walau hobinya ngomong miring.

3. “Kenapa gak mau prewedding? Nanti tamunya ngelihat apaan?”

Banyak sih yang bisa dilihat. Kebahagiaan pasangan yang baru saja menikah? Orangtua yang bangga melepas anaknya mulai kehidupan baru? Tamu-tamu lainnya yang bisa diajak ngobrol dan bahkan networking? Keluarga dari pihak besan yang bisa diajak berkenalan dan silaturahmi? Gak ada salahnya mengabadikan momen sebelum menikah dalam bentuk foto prewedding, tapi bagi beberapa orang yang tidak nyaman ada di depan kamera, prewedding adalah mimpi buruk. Ya, siapa sih yang gak seneng ngelihat foto-foto yang isinya calon pengantin nan cantik dan ganteng lagi berbahagia menanti hari pernikahan; kalau mereka memang kepengen difoto. Jangan memaksakan hal yang tidak membuat pihak yang menikah merasa nyaman, dengan hal-hal yang tidak menambah kebahagiaan mereka sedikitpun. Kalau mereka ingin mengurangi biaya menikah dengan meniadakan prewedding, dengarkan saja.

Pengantin ini mengabadikan sendiri momen pernikahannya. Sumber: boredpanda.com

Pengantin ini mengabadikan sendiri momen pernikahannya. Sumber: boredpanda.com

4. “Yakin si A gak diundang? Kalau si B? Nanti mereka tersinggung, lho”

Di dunia ini masih banyak orang baik. Masih banyak orang baik dengan berbagai kesibukan masing-masing. Masih banyak orang baik dengan kesibukan masing-masing yang jauh lebih penting daripada meributkan kenapa dirinya gak diundang ke suatu pernikahan. Orang-orang yang marah dan menyimpan dendam lalu menyebar gosip karena gak diundang ke pernikahan kita seharusnya bukan orang yang bisa dipanggil teman. Apakah kita benar-benar ingin orang-orang seperti ini ada di pernikahan kita? Teman sejati Anda akan mengerti, diundang ataupun tidak, mereka tidak akan memusuhi.

5. “Mau nikah dalam waktu 6 bulan? Emang cukup waktunya? Emang bisa? Buru-buru amat.”

Pertanyaannya adalah: “Kenapa tidak?”

Salah satu teman saya menikah dalam tempo sebulan, dan bukan karena MBA. Ya, karena dia ingin saja menikah dan tidak ingin menanti terlalu lama, plus atas desakan orangtua. Semuanya mungkin, asal fokus utamanya ada pada keinginan dua orang yang memang ingin menikah tersebut. Seandainya semua orangtua berpikir untuk menyederhanakan pernikahan, maka 6 bulan bukan apa-apa. Mengapa harus mempersulit saat bisa mempermudah?


Keakraban dan keintiman dalam setting dinner dibandingkan resepsi. Sumber: huffingtonpost.co.uk

6. “Gak diresmiin pakai tunangan dulu?”

Terlepas dari adat yang masih dipegang teguh oleh keluarga dan harus dihargai, terkadang tunangan dulu bukan sesuatu yang paling efektif dari segi biaya. Saat berdiskusi dengan keluarga, dan acara tunangan menjadi salah satu syarat yang muncul sebelum menikah, lakukanlah. Tapi, kalau memang tidak harus dilakukan dan selama kedua pihak tidak merasa perlu, maka tunangan cukup dilakukan secara simbolis saja, tanpa perlu bermewah-mewah dengan seserahan yang bisa bikin pengeluaran membengkak.

7. “Gak mau pakai EO? Nanti kacau, lho.”

EO alias event organizer atau yang lebih sering disebut wedding organizer memang diperlukan, jika biaya yang berlebih memang tersedia. Balik ke prinsip menyederhanakan tadi, suatu acara yang banyak isinya dan akbar memang memerlukan orang-orang khusus untuk mengaturnya. Jadi, seakbar apakah pernikahan kita? Jika bantuan dari sahabat terdekat dan hasil turun tangan kedua pasangan yang akan menikah sendiri sudah cukup, apa benar EO diperlukan? Pernikahan yang konteksnya sakral tidaklah perlu terlalu gembar-gembor ala pekan raya, cukuplah kehadiran mereka yang paling dicintai dan setia di sekitar pasangan yang berbahagia sambil menikmati kehadiran satu sama lain.



Momen-momen indah dari sudut pandang sang pengantin. Sumber: huffingtonpost.co.uk

Berbagai hal harus dipersiapkan jika ingin menikah, mulai dari surat-surat yang melegalkan prosesnya, hingga kepastian datangnya mereka yang tercinta di tempat pilihan yang sudah dipesan lengkap dengan isi acaranya. Apakah semua detail tersebut terdengar mahal? Ya, hanya jika dibuat mahal. Banyak pasangan yang menunda menikah karena menunggu biaya yang cukup terkumpul, dan menunggu; sampai kapan? Hanya Tuhan yang tahu.

Ambil keputusan untuk menikah ketika kita sudah siap, dalam artian ketika sudah ada kestabilan dari kedua pihak untuk hidup bersama dalam satu keluarga yang saling menopang dan menjaga. Ambil keputusan untuk menikah dengan kemantapan dan rencana, ambil masukan yang memang baik bagi kehidupan pernikahan yang akan dijalani sesudah pesta, bukan saat pesta. Ambil keputusan untuk menikah, adakan pernikahan sesuai dengan kemampuan, dan pastikan Anda tetap sejahtera sesudahnya, bukan dengan gengsi yang berhasil diangkat, tapi dengan kebahagiaan dan kecukupan materi.

Inilah pernikahan yang sesungguhnya, bukan pesta semalam. Sumber: huffingtonpost.co.uk
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s